Rumah Sakit PGI Cikini (
RS Cikini) adalah rumah sakit swasta yang tidak bertujuan untuk meraih keuntungan finansial (
not-for-profit),
berlokasi di Jalan Raden Saleh Nomor 40, Cikini, Jakarta Pusat, seluas
5,6Ha di tempat bersejarah yang sebelumnya merupakan rumah pelukis
kenamaan
Raden Saleh.
RS PGI Cikini memberikan layanan kesehatan lengkap untuk berbagai
bidang medis, baik untuk pasien rawat jalan, maupun pasien rawat inap
dengan kapasitas sekitar 350 tempat tidur, di kamar rawat bernuansa
taman. Sejak awal didirikannya pada tahun 1898, Rumah Sakit swasta yang
kini berada dibawah naungan
Yayasan Kesehatan PGI Cikini
ini, menerima pasien tanpa membedakan asal-usul, ras, agama, dan
kebangsaan. RS Cikini memberikan layanan kesehatan paripurna dengan
sekitar 100 dokter spesialis dan super spesialis yang meliputi hampir
seluruh bidang layanan medis. RS Cikini menerima pasien ASKES, dan
kerjasama dengan perusahaan-perusahaan, termasuk untuk layanan medical
check-up.
Rawat Jalan
Instalasi Rawat Jalan di RS Cikini memiliki poli spesialis yang
lengkap. Dilengkapi dengan fasilitas rehab medis, poli gigi, klinik
diabetes, one-day-care, renal unit, dan lain sebagainya. Unit rawat
jalan ini juga memberikan pelayanan medical check-up bagi pribadi maupun
perusahaan.
Rawat Inap
Pasien rawat inap dapat masuk melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD)
yang beroperasi 24 jam, atau melalui rujukan dokter dari Instalasi Rawat
Jalan. Seluruh kamar rawat di RS Cikini berada di lokasi bernuansa
taman. Tersedia tempat tidur kelas Super VIP sampai dengan kelas III.
Kamar rawat Super VIP dan VIP tak ubahnya seperti villa pribadi yang
berada di tengah taman di pusat kota Jakarta. Bangsal kelas III untuk
pasien kurang mampu juga dilengkapi dengan nuansa taman.
Terdapat masing-masing bangsal khusus untuk anak-anak, bayi, ibu
melahirkan, kamar operasi (OK), pasien pasca operasi, isolasi, high-care
unit (HCU), intensive care unit (ICU), stroke unit (SU), bangsal
neurologi.
Penunjang Diagnostik
RS Cikini memiliki peralatan penunjang diagnostik yang cukup lengkap.
Laboratorium dengan peralatan terkini memberi layanan 24 jam, dengan
hasil yang terkomputerisasi. Radiologi memiliki peralatan diagnostik
terkini seperti mamografi, USG doppler, CT Scan, MRI, dan lain
sebagainya. Terdapat pula peralatan diagnostik neurologi seperti EEG dan
EMG.
Pengobatan dan Terapi
Depo farmasi RS Cikini melayani pasien 24 jam sehari. Selain itu
terdapat pula layanan medis seperti laser mata, lasik mata, ESWL
(pemecah batu ginjal dengan gelombang elektromagnetik, tanpa operasi).
Renal unit RS Cikini beroperasi 24 jam memberikan layanan hemodialisis,
juga dilengkapi dengan kamar dialisis VIP dan kamar dialisis isolasi.
Klinik CAPD memberikan penyuluhan, pemasangan, penanganan, dan
pemeliharaan dialisis CAPD (dialisis yang dapat dilakukan sendiri secara
berkesinambungan).
Bidang Medis Unggulan
RS Cikini dikenal khususnya dalam bidang medis ginjal. Instalasi Ginjal dirintis oleh alm.
Prof. R.P. Sidabutar sebagai unit Penyakit Dalam Ginjal dan Hipertensi (PDGH), yang bekerja sebagai sebuah tim medis.
Prof. R.P. Sidabutar
merupakan penyelenggara transplantasi ginjal pertama di Indonesia.
Sejalan dengan itu, sebagian besar transplantasi ginjal di Indonesia
dilakukan di RS Cikini oleh tim PDGH dan Urologi. RS Cikini membuat
rekor MURI sebagai rumah sakit penyelenggara transplantasi ginjal dengan
pasien yang hidup paling lama. Pemberian terapi dialisis, baik
hemodialisis maupun CAPD dapat dilakukan secara terintegrasi.
Instalasi Syaraf dirintis oleh alm. Prof. S.M.L. Tobing, saat ini
telah memiliki layanan penyakit syaraf terpadu dengan kelengkapan
diagnosis melalui MRI, EEG, dan EMG. Stroke Unit RS Cikini dengan 18
tempat tidur, dilengkapi fasilitas neurorestorasi, diresmikan oleh Ibu
Negara pada tahun 2007 silam, dengan nuansa taman khas RS Cikini.
Sejarah rumah sakit
Rumah Raden Saleh di Batavia tahun 1875-1885
Berdiri pada 12 Januari 1898 sebagai RS Ratu Emma (Vereniging voor
Ziekenverpleging Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini), RS Cikini didirikan
oleh Ny. Adriana Josina de Graaf-Kooman, istri misionaris Belanda,
dengan tujuan untuk merawat orang-orang sakit dari berbagai golongan
masyarakat tanpa memandang kedudukan dan untuk semua suku, bangsa, dan
agama. Biaya pendirian rumah sakit diperoleh dari
Ratu Emma, digunakan untuk membeli bekas rumah pelukis kenamaan
Raden Saleh di Menteng (
Huis van Raden Saleh).
Nirin Ninkeulen dari Depok menjadi pribumi pertama yang bekerja
sebagai tenaga medis di RS Ratu Emma. Rumah Sakit Ratu Emma berubah
nama menjadi Rumah Sakit Tjikini pada 1 Agustus 1913.
Pada masa pendudukan Jepang, RS Cikini dijadikan Rumah Sakit Kaigun
(Angkatan Laut Jepang). Pasca pendudukan Jepang (Agustus 1945 - Desember
1948), RS Tjikini dioperasikan oleh RAPWI dan kemudian DVG, hingga
akhir 1948 RS Cikini dikembalikan pengelolaannya kepada pihak swasta
dipimpin oleh R.F. Bozkelman. Tahun 1957, pengelolaan
Stichting Medische Voorziening Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini
diserahkan kepada DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia) dengan Prof.
Dr. Joedono sebagai pimpinan sementara. Selanjutnya diangkat dr. H.
Sinaga, sebagai direktur pribumi pertama RS Tjikini. Yayasan
Stichting Medische Voorziening Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini
kemudian diubah namanya menjadi Yayasan Rumah Sakit DGI Tjikini. Pada
31 Maret 1989, sehubungan dengan perubahan nama DGI menjadi PGI, dan
adanya ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan, maka nama Yayasan RS
DGI Tjikini disempurnakan menjadi
Yayasan Kesehatan PGI Cikini.
[1]
Yayasan Kesehatan PGI Cikini membawahi Rumah Sakit PGI Cikini, Akademi Perawat RS PGI Cikini (
Akper Cikini), Pusat Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia RS PGI Cikini (
PPSDM), dan
Balai Kesehatan Masyarakat di Tanjung Barat.
Referensi
- ^ Dr. Poltak Hutagalung, Amir L. Sirait, Moxa Nadeak , “100 Tahun RS PGI Cikini, Dengan sentuhan kasih”, 10 Desember 1997
Kategori: